The Doctor yang memang bisa “Terbang”
Michael # 1 = Michael Jefrey “air” Jordan ( 1983-1998 / 02-03)
Jika anda seseorang yang berasal dari generasi 90an, pastinya anda pernah mengalami masa keemasan generasi NBA di tanah air khusunya antara tahun 1991-1998. Saat itu siapa yang tidak kenal dengan seseorang bernomor punggung 23 bernama Michael Jordan. Bahkan jika membicarakan mengenai NBA akan langsung terhubung dengan pemain yang satu ini. Seiring dengan pensiunnya Jordan pada tahun 98 (diluar comeback pada 2002-03) pamor NBA menurun tidak hanya di Indonesia di asia pun turut mengalami hal yang serupa. Sebagai catatan ia adalah pemain yang mampu menggantikan popularitas dan prestasi dari legenda sebelumnya yaitu Wilt Chamberlain.
Michael # 2 = Michael “Rain Master” Schumacher ( 1991-2006)
Baru saja pensiun, namun masih sering terlihat di setiap seri GP F1, gelar juara dunia sebanyak 7 kali berhasil ia peroleh. Ia pun dianggap sebagai pembalap terhebat sepanjang sejarah F1, setelah berakhirnya era Juan Manuel Fangio. Kalau saja kehadiran pembalap berkulit gelap dan fenomenal Lewis Hamilton barang kali popularitas F1 akan menjadi seperti NBA. Pasalnya di tangan Alonso dan Raikkonen mereka kurang mengena dimata publik.
Michael # 3 = Michael “Mick” Doohan (1989-1999)
Fenomena Gp500. Jadi juara dunia 5 kali berturut turut. Merupakan sebuah ikon tersendiri di motoGP. Cara membalap yang tenang dan safe menjadi cirikhan crocodile Aussie yang satu ini. Namun berbeda dengan dua Michael sebelumnya balap motor tidak perlu terlalu lama pasalnya fenomena baru langsung tidak lama setelah ia pensiun.
Valentino Rossi sang pengganti Michael “Mick” Doohan
Inilah dia yang menyebabkan dunia balap motor tidak begitu kangen dengan figur Mick Doohan. pasalnya Rossi sendiri telah memupuk prestasi dan popularitas di saat Doohan sedang masa kejayaanya. Ibarat estafet, Rossi sudah siap mengambil tonggkat untuk kemudian menjadikan dirinya seorang legenda baru yang lebih hebat. Hal ini tidak lepas dari persiapan rossi sebelum ke motogp, karena rossi sendiri merupakan mantan juara dunia Gp 125 (97) dan 250 (99). Cara membalapnya yang “fighter” bukan mencari aman seperti Doohan dan memiliki kreatifitas baik dari segi kostum maupun merayakan selebrasi membuat dirinya dikenal dan segera menjadi sebuah ikon motogp yang baru. Kesengan akan tantangan dan kemampunya meracik motor (kecuali ban dimana akhirnya ia menyerah) menjadi catatan penting, bahkan Schummi pun tidak mampu melakukanya sendirian membuat berbagai pihak menjadi kagum atas prestasinya.
Melihat Kondisi Sekarang, Sulit mencari Suksesor seperti Rossi !!!
Secara prestasi suksesor tersebut bisa dibilang sangat sukses karena dari segi teknis setidaknya mampu menyamai prestasi legenda sebelumnya tetapi di beberapa hal lain suksesor tersebut gagal melakukan apa yang telah berhasil dilakukan predesesornya dan hal ini adalah yang paling vital : Menjadi sebuah ikon dan membuat bidang nya diketahui bahkan oleh kalangan awam sekalipun.
Saat ini di usia yang sudah kepala tiga, yang artinya massa pensiun sudah bukan merupakan opsi melainkan menjadi “count down” apakah dunia balap roda sudah memiliki pengganti yang sepadan, seperti yang dilakukan Valle terhadap mick Doohan atau justru harus menunggu untuk waktu yang lama, ?
Memang kini di Moto GP beredar nama besar seperti Casey Stoner yang secara prestasi juga tidak kalah (juara dunia termuda ke dua dalam sejarah moto gp), Danii Pedrosa sang golden boy dari spanyol maupun Jorge Lorenzo sang rookie yang sama phenomenalnya dengan the Doctor. Tetapi perlu di catat ketiga pembalap muda tersebut rentan cedera akibat kecelakaan yang mereka alami baik sekarang maupun di masa lalu. Akibatnya bisa dilihat, Dani pedrosa kembali gagal merebut gelar juara dunia tahun ini karena cedera. Stonerpun demikian akibat cedera lama yang kambuh peluangnya mempertahankan gelar kian tipis. Kejutan Lorenzo di awal pun hilang akibat kecelakaan. Hal serupa tidak dialami rossi di awal karir. Keuntungan yang di perolehpun jelas, yaitu yang perlu dikuatirkan oleh rossi hanyalah performa motor seperti kondisi fissik yang selalu prima hingga saat ini. Nampaknya tidak perlu di kuatirkan. Bisa dibilang melihat kondisi seperti ini sepeninggal Rossi dunia moto GP akan butuh waktu lama mencari seorang “the Doctor” yang baru. seperti halnya F1 dan NBA setelah kehilangan dua Michaelnya.!





